Islam Nusantara Garis Kiri (Bagian IV)

Penulis Tadbir
06 January 2023

Tanggapan atas tulisan Gus Ulil Abshar-Abdalla berjudul Islam Nusantara Sebagai ‘Cosmopolis’: Sejumlah Kritik dan Eksplorasi Teoretis

Oleh: Saeful Ihsan, S.Pd., M.Pd.

Saya kira Islam itu tidak selesai dengan ritual. Apa guna kita penuhkan ibadah sehari semalam sepanjang masa jika tetangga kita, masyarakat kita, rakyat kita sendiri hidup dalam kemelaratan. Hidup mereka di gubuk-gubuk yang dibangun di atas tanah orang lain–atau di atas tanah mereka yang suatu saat akan dirampas oleh pemodal dengan manipulasi regulasi–yang suatu saat akan terusir dari sana.

Bukan berarti peduli terhadap mereka sekadar dengan jalan bersedekah. Diperlukan sistem yang bisa mengeluarkan mereka dari kondisi yang demikian. Pertanyaannya kemudian adalah apakah karena Islam konsen pada urusan ukhrawi sehingga upaya mengubah nasib kaum miskin tidak diperlukan?

Bagaimana dengan Islam Nusantara? Salah satu buku Islam Nusantara yang tidak disebut oleh Gus Ulil, yaitu “Mozaik Pemikiran Islam Nusantara” yang merupakan kumpulan tulisan (kebanyakan dari) ulama dan cendekiawan NU–sebagaimana buku-buku Islam Nusantara yang lain–tidak membicarakan tentang visi pembelaan terhadap kaum mustad’afin. Jika pun ada, itu bukan tema sentral.

Tugas penulis esai, makalah, maupun buku Islam Nusantara cukup sampai di situ. Yakni mengenalkan sebaik mungkin akan adanya Islam yang moderat, yang akomodatif terhadap tradisi lokal, serta yang aktif mengembangkan tradisi ilmu pengetahuan. Bahwa ada Islam yang seperti itu di negeri bawah angin yang tak boleh disepelekan, apalagi tidak dianggap sebagai bagian dari Islam dunia.

Tetapi juga adanya Islam Nusantara dari Garis Kiri juga tak dapat dimungkiri. Salah satu contohnya, Sarekat Islam di masa kolonial, baik SI putih maupun SI merah, diakui atau tidak, ciri umumnya adalah kiri. Mereka mengatasnamakan Islam, lalu menjadikan sumber pemahaman Islam untuk membela nasib kaum tertindas. Walaupun SI putih yang kemudian hingga kini hidup sebagai Syarikat Islam Indonesia (PSII) lebih moderat, tetap saja mengusung “Zelfbestuur”, bentuk sendiri, yang bermakna kemerdekaan dari kolonialisme, berarti memiliki visi membebaskan rakyat dari penindasan.

Meski kaum Sarekat Islam menolak untuk disebut kiri.

Islam Nusantara Garis Kiri adalah suatu gaya yang lain dari deskripsi Islam Nusantara secara umum. Mereka juga suatu identitas yang mengisi ruang-ruang sejarah di Nusantara: Pra-Kemerdekaan, Orde Baru hingga tumbangnya, serta di era Reformasi, sampai sekarang. Bisa juga kita golongkan mereka sebagai “Islam Alternatif” sebagaimana buku Kang Jalal (K.H. Jalaluddin Rahmat), yang kemudian visinya juga ada dalam buku Kang Jalal selanjutnya, “Islam Aktual”.

Islam tidak sebatas menjalankan ritual mahdah dan ghairu mahdah–khusus Islam Nusantara disertai dengan tradisi keislaman khas Nusantara–setelah didahului oleh pemahaman fikih yang benar, melainkan juga perlu mengaktualisasikan Islam sebagai agama pembebasan terhadap sistem jahiliyah: sistem yang menindas.

Kang Jalal dalam “Islam Alternatif”, dengan sangat bagus meminjam Ali Syariati dalam membagi dua macam para Nabi: Nabi Ibrahimiah dan Nabi non-Ibrahimiah. Nabi non-Ibrahimiah seperti Zharatustra (Zoroaster), Siddharta Gautama, dan Kong-fu Tse, rata-rata lahir dari keluarga kerajaan. Perjalanan mereka sebagai seorang Nabi adalah menemukan kebenaran yang sifatnya ilham individual. Setelah menemukan kebenaran, jadilah orang baik, lalu sebarkanlah kebaikan itu ke tengah masyarakat.

Sedang Nabi Ibrahimiah rata-rata terlahir dari masyarakat kecil yang tertindas. Kondisi masyarakat Nabi-Nabi ini membuat para Nabi tidak hanya sekadar menyampaikan kebenaran. Tetapi juga mereka memperjuangkannya secara revolusioner. Nabi Musa menghadapi fir’aun, Nabi Ibrahim menghadapi Raja Namrudz, Nabi Isa menghadapi pemuka-pemuka Yahudi, sedang Nabi Muhammad (saw.) menghadapi sistem jahiliyah di tengah-tengah masyarakatnya.

Namun saya tidak akan lebih jauh menganalogikan Islam Nusantara Garis Kiri adalah penerus Nabi-Nabi Ibrahimiah, hanya saja ini bisa dijadikan justifikasi mengapa ada Islam yang revolusioner. Jadi, model revolusioner, atau kiri itu tidak ujug-ujug Marxis.

Palu (29.06.2021)

Saeful Ihsan, S.Pd., M.Pd., Ketua Umum Pimpinan Wilayah Pemuda Muslimin Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah.

Baca juga Bagian IBagian IIBagian III, dan Bagian V

Bagikan