HOS Tjookroaminoto: Perintis Integrasi Keilmuan

Penulis Admin
02 December 2022

Het hoogste kennisniveau, puur als puur monotheïsme, is net zo slim als slimme tactieken (Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat).

Itu adalah hasil pemikiran HOS Tjokroaminoto paling berlian dan spektakuler. HOS Tjokroaminoto, bukan sekadar Bapak Bangsa, dia juga sebagai perintis integrasi keilmuan di dunia pendidikan. Dia adalah orang pertama memperkenalkan dedikotomisasi dalam dunia pendidikan.

Idenya itu dilatarbelakangi oleh kondisi pendidikan ketika itu. Belanda datang dengan memperkenalkan pendidikan sekuler.

Di lembaga pendidikan yang didirikan Belanda tidak boleh mengajarkan agama. Orang yang ingin belajar agama bisa dilakukan di luar sekolah, seperti dilakukan oleh Muhammad Natsir, Kasman Singodimejo, dan lainnya.

Berbeda halnya dengan pendidikan di pesantren yang hanya mengajarkan agama, sehingga Belanda menyebut pendidikan agama hanya mengajarkan akhirat, tempatnya di rumah-rumah ibadah.

Kondisi dunia pendidikan itulah yang mendorong Tjokroaminoto memperkenalkan integrasi keilmuan. Dalam banyak kesempatan Tjokroaminoto selalu mengintrodusir bahwa Islam tidak mengenal dikotomi keilmuan.

Tidak bisa dipisahkan antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama. Itu telah dipraktikkan dalam periode klasik Islam dan mengantarkannya ke puncak kemajuan yang disebut The Golden Age of Islam.

Ide Tjokroaminoto inilah yang dikembangkan di dunia pendidikan sekarang atau setelah lebih 80 tahun Tjokroaminoto meninggal dunia.

Integrasi keilmuan adalah salah satu legacy Tjokroaminoto yang sekarang diperkenalkan di Universitas Islam Negeri. Di dalamnya dengan mudah ditemukan fakultas umum berdampingan fakultas agama. Pelajaran umum diberi wawasan keagamaan dan pelajaran agama diberi wawasan umum.

Natijah

  1. Di antara capaian Tjokroaminoto paling spektakuler adalah pemikirannya, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”
  2. Ide berlian lain Tjokroaminoto adalah integrasi keilmuan. Di zaman Belanda hanya mengajarkan ilmu umum, sementara di pesantren hanya mengajarkan agama. “Tidak ada pemisahan antara ilmu pengetahuan umum dan agama,” kata Tjokroaminoto.

Makassar, 21 Desember 2018

Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang, MA. Ketua Umum DPP IMMIM Masa Amanah 2013-2018.

Bagikan