π‘πžπŸπ₯𝐞𝐀𝐬𝐒 π‘πšπ¦πšππšπ§ 𝐝𝐚π₯𝐚𝐦 π‚πšπ‘πšπ²πš π“π£π¨π€π«π¨πšπ¦π’π§π¨π­π¨

Penulis
21 February 2026

Ramadan bukan sekadar perulangan kalender ritual, melainkan sebuah laboratorium transformasi jiwa yang sangat relevan dengan filosofi hidup 𝐇.𝐎.𝐒. π“π£π¨π€π«π¨πšπ¦π’π§π¨π­π¨ (lebih familier ditulis dan dikenal dengan π‚π¨π€π«π¨πšπ¦π’π§π¨π­π¨). Sang Guru Bangsa ini mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati dimulai dari kemerdekaan batin.

Dalam konteks Ramadan, pengendalian diri melalui puasa adalah bentuk nyata dari upaya memerdekakan diri dari perbudakan hawa nafsu, yang selaras dengan prinsip Tjokroaminoto bahwa manusia harus berdaulat penuh atas dirinya sendiri.

Semboyan legendaris beliau, “π‘†π‘’π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘›π‘–-π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘›π‘– π‘‘π‘Žπ‘’β„Žπ‘–π‘‘, 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖-𝑑𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 π‘–π‘™π‘šπ‘’, π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘ -π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘  π‘ π‘–π‘Žπ‘ π‘Žπ‘‘” menemukan resonansi terdalamnya di bulan suci ini. Ramadan menuntut kita untuk mengasah ilmu melalui perenungan dan literasi spiritual.

Di saat yang sama, kita dilatih menyusun siasat atau strategi dalam manajemen waktu dan amal, yang semuanya harus bermuara pada pemurnian tauhid. Proses ini menciptakan insan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara vertikal kepada Sang Pencipta.

Filosofi 𝒁𝒆𝒍𝒇𝒃𝒆𝒔𝒕𝒖𝒖𝒓 atau pemerintahan sendiri yang digaungkan Tjokroaminoto pada masa pergerakan, sejatinya adalah esensi dari ibadah puasa. Puasa adalah latihan tata kelola diri (𝑠𝑒𝑙𝑓-π‘”π‘œπ‘£π‘’π‘Ÿπ‘›π‘Žπ‘›π‘π‘’) yang paling murni.

Di sini, seseorang belajar memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain. Relevansinya hari ini adalah bagaimana semangat Ramadan melatih kita untuk memiliki integritas tinggi, tetap jujur meski tak ada mata manusia yang mengawasi, persis seperti etika kepemimpinan yang ditekankan beliau.

Tjokroaminoto dikenal sebagai sosok yang menentang perilaku sembah-jongkok atau feodalisme yang merendahkan martabat manusia. Ramadan membawa pesan serupa tentang kesetaraan. Di hadapan Allah, semua hamba yang berpuasa berada dalam derajat yang samaβ€”merasakan lapar yang sama dan sujud di baris yang sama.

Semangat ini memperkuat visi Tjokroaminoto tentang masyarakat yang egaliter, di mana kemuliaan seseorang hanya diukur dari ketakwaannya, bukan pangkat atau darah birunya.

Lebih jauh lagi, perjuangan Tjokroaminoto bersama Sarekat Islam selalu berpihak pada kaum mustad’afin (mereka yang tertindas). Ramadan memperkuat empati sosial ini melalui rasa lapar yang kita rasakan secara kolektif.

Puasa memaksa kita keluar dari zona nyaman untuk merasakan penderitaan mereka yang kekurangan. Hal ini seharusnya mengonversi rasa lapar individual menjadi aksi sosial nyata untuk melawan kemiskinan dan ketidakadilan, sebagaimana visi kerakyatan Sang Guru Bangsa.

Dalam pandangan Tjokroaminoto, Islam adalah energi penggerak untuk kemajuan. Begitu pula dengan Ramadan yang seharusnya menjadi bulan produktivitas, bukan bulan bermalas-malasan. Menahan nafsu di siang hari adalah bentuk mobilisasi energi batin untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar di jalan Tuhan.

Jika Tjokroaminoto menggunakan Islam sebagai motor penggerak massa menuju kemerdekaan, maka kita harus menggunakan Ramadan sebagai motor penggerak diri menuju kebangkitan moral.

Konsep “Sosialisme Islam” yang diusung Tjokroaminoto juga tercermin dalam syariat zakat fitrah di pengujung Ramadan. Zakat bukan sekadar pembersihan harta, tetapi instrumen distribusi kesejahteraan agar kebahagiaan hari raya tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang.

Ini adalah bentuk nyata dari keadilan sosial yang dicita-citakan beliau, di mana setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan tidak ada tetangganya yang menderita kelaparan.

Kemandirian ekonomi yang diperjuangkan Tjokroaminoto melalui koperasi dan serikat dagang juga menemukan relevansinya dalam kesederhanaan Ramadan. Bulan ini mengajarkan kita untuk mengerem konsumerisme yang berlebihan. Dengan mengendalikan konsumsi, kita sebenarnya sedang membangun kemandirian ekonomi pribadi dan bangsa.

Ramadan adalah momentum untuk kembali ke gaya hidup yang bersahaja namun bertenaga, sebuah antitesis dari gaya hidup bermewah-mewahan yang sering kali melupakan nasib rakyat kecil.

Sebagai seorang orator ulung yang mampu membakar semangat rakyat, Tjokroaminoto selalu menekankan pentingnya kejujuran dalam kata dan perbuatan. Ramadan adalah bulan di mana lisan kita dijaga dengan ketat dari dusta dan ghibah. Transformasi lisan ini adalah kunci bagi terciptanya ruang publik yang sehat.

Jika setiap warga bangsa mampu menjaga lisannya sebagaimana instruksi puasa, maka persatuan dan kesatuan yang dicita-citakan Tjokroaminoto akan lebih mudah terwujud tanpa gangguan berita bohong dan fitnah.

Sebagai penutup, mengintegrasikan semangat Ramadan dengan filosofi Tjokroaminoto berarti menjadikan puasa sebagai batu loncatan menuju kemajuan peradaban. Kita tidak hanya berhenti pada ritualitas, tetapi bergerak menuju pengabdian yang lebih besar bagi kemanusiaan.

Dengan bekal tauhid yang murni dan keberanian membela kebenaran, Ramadan diharapkan mampu melahirkan kembali sosok-sosok “Tjokroaminoto muda” atau “Heru Tjokro” yang berintegritas dan siap membawa rahmat bagi seluruh alam.

Abdul Zahir, S.Pd., M.Pd., Kader SEMMI dan Pemuda Muslimin Indonesia Sulawesi Selatan. Dosen Universitas Cokroaminoto Palopo

ξ‚ 

Bagikan