Refleksi 89 Tahun Pemuda Muslimin Indonesia

Oleh : HT. Prasetya *
Kutipan Puisi Kahlil Gibran tentang “Bangsa Kasihan”.

Kasihan bangsa, yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan, dan menganggap penindasan penjajahan sebagai hadiah. Kasihan bangsa, yang negarawannya serigala, filosofnya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru. Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan diatas kuburan, tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.

Deskripsi puisi tersebut kiranya memiliki kesesuaian dengan gambaran bangsa Indonesia yang kita cintai. ‘Merdeka’ dari penjajahan kolonial ternyata tak secara otomatis memerdekakan Umat Islam di Indonesia dari keterjajahan mental, moral dan Tauhid. Jiwa-jiwa kolonialisme masih sangat lekat bersemayam dalam jiwa sebagian besar masyarakat kita. Begitulah, bangsa ini yang telah merdeka secara fisik, tapi belum secara mental. “Ternyata kita belum merdeka seutuhnya (baca: Kemerdekaan Sejati)”

Bagi Pemuda Muslim, setting ideologis, sosiologis, kultur dan filosofis sebagaimana tersebutlah yang memberi penguat terhadap keyakinan diri tentang tetap relevannya tujuan Pemuda Muslim untuk menjadi patok pergerakan Islam masa kini.

Melihat realita Pemuda Muslimin Indonesia hari ini, sedikit terselip perasaan was-was akankah mampu menegakkan tujuan perjuangan yang sangat luar biasa ini. Pemuda Muslim yang seharusnya kokoh dalam karakter dan identitas yang sudah sangat jelas disandangnya (yaitu MUSLIM), kini seolah terseret arus yang mengantarkan ke persimpangan jalan. Jika sudah demikian, masihkah Pemuda Muslim memiliki kans untuk menjadi generasi pengganti, generasi perubah, dan generasi pembangkit?

Ada dua jebakan yang mungkin menimpa kita hari ini, pertama Pemuda Muslim menjadi hampa nilai atau kedua, secara “primitif” masih berpegang pada nilai-nilai lama yang “usang”

Karenanya kita harus secepatnya mencapai titik keseimbangan baru untuk menentuka nilai-nilai kebenaran absolut yang menjadi penyangga perjuangan pergerakan kita. Langkah pengembalian pada titik keseimbangan baru itu diantaranya :

Pertama, memperteguh basis moral kepribadian yang akan membentuk akhlak mulia. Jejak perubahan akan menapak dengan jelas dan lugas jika Pemuda Muslim menjadi model hidup yang bisa diteladani.

Kedua, mempertajam kompetensi diri baik hard maupun soft skill. Kompetensi ini juga harus kompetitif, karena dengan kompetensilah seseorang bisa hidup mandiri dan merdeka.

Ketiga, menumbuhkan sense of crysis pada masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Disinilah moral dan kompetensi diri dari seorang Pemuda Muslim menemui konteksnya sebagai muharrik menuju amal jama’i yang akan membawa peran serta masyarakat ke arah perubahan yang diharapkan.

Yang perlu diperhatikan dan menjadi bahan kontemplasi kita, bahwa Pemuda Muslim adalah organisasi pergerakan (harokah), namun harokah dalam pandangan Pemuda Muslim bukanlah gerakan isolasi dan elemenasi diri dari kehidupan masyarakat banyak. Jelaslah Trilogi Syarikat Islam Indonesia menjadi sandaran gerak perlawanan kita.

Dirgahayu PEMUDA MUSLIMIN INDONESIA

Subhaanaka Laa ‘Ilmalanaa Illa Maa ‘Allamtanaa….
 
*) Ketua Umum Pimpinan Wilayah Pemuda Muslimin Indonesia Provinsi Jawa Barat.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *