Muflich Chalif; Luruskan Kembali Sejarah Harkitnas

Jakarta, Pemuda Muslim Online — Organisasi Induk Pemuda Muyslimin Indonesia yakni Syarikat Islam Indonesia ingatkan adanya kesalahan sejarah terkait penetapan Hari Kebangkitan Nasional yang didasarkan pada lahirnya Boedi Oetomo, 20 Mei 1908.  Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam Indonesia (SI INDONESIA), H Muflich Chalif Ibrahim menegaskan, sejarah yang benar itu penting.

‘SI INDONESIA ingin meluruskan sejarah pergerakan Indonesia berdasarkan fakta-fakta kesejarahan yang ada,” ujar Chalif kepada wartawan di sela-sela keterangan pers SI INDONESIA  yang digelar di Jl. Prof. Dr. Latumenten, Jakarta, Kamis (20/05/2-18). Sejarah itu, kata dia, juga dilakukan bukan karena SI INDONESIA ingin membangkitkan masa lalu sebagai kenangan tanpa makna, namun Sejarah penting untuk dipahami para generasi kedepan.

Menurut Chalif, Boedi Oetomo hanyalah sebuah paguyuban  beberapa orang yang sangat eksklusif, terdiri dari priyayi Jawa yang beruntung memperoleh akses pendidikan di STOVIA.  ”Mereka  menyatakan bahwa Boedi Oetomo) adalah “Perkumpulan Prijaji Djawa dan Madura” dan hanya priyayi Jawa dan Madura yang boleh menjadi anggota,” ungkap Chalif.

Bahkan, kata dia, Boedi Oetomo memutuskan dapat menerima Cina dan Belanda. ”Boedi Oetomo menolak cita-cita persatuan Indonesia (hasil kongres Boedi Oetomo 1928) dan lebih mengutamakan gerakannya sebagai gerakan Jawanisme.

Chalif mengungkapkan, seorang nasionalis terdidik seperti Dr Tjipto Mangunkusumo bahkan keluar dari keanggotaan Boedi Oetomo karena usulannya agar non-Jawa diterima sebagai anggota mendapat penolakan. “Lalu bagaimana kelahiran sebuah perkumpulan dan gerakan eksklusif yang sangat sektarian dan tak berpikir persatuan Indonesia, tetapi berjuang untuk nasionalisme Jawa  dipilih menjadi hari Kebangkitan Nasional?” .

Ia mengungkapkan, berdasarkan berbagai tulisan sejarah, Hari Kebangkitan Nasional ditetapkan pada 20 Mei  bertepatan dengan lahirnya Boedi Oetomo – oleh Kabinet Hatta karena pertimbangan perlunya mengikat kembali persatuan yang terancam pecah.

“Bung Karno bahkan beberapa kali dalam pidatonya menyatakan bahwa Hari Kebangkitan Nasional perlu dievaluasi,” ungkap Chalif Ibrahim. Pelurusan Sejarah yang dilakukan Syarikat Islam Indonesia itu, kata dia, semata-mata  agar bangsa Indonesia mulai mau menerima koreksi terhadap benang merah perjuangan bangsa yang lurus dan benar hingga mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan.

Syarikat Islam Indonesia, tegas Chalif, ingin menyatakan bahwa kebangkitan nasional dimulai dari hadirnya “perlawanan secara sadar”, bukan dari munculnya gerakan-gerakan kolaboratif dan konspiratif. Menurutnya, 16 Oktober 1905 — sebagai hari lahirnya Serikat Dagang Islam (SDI)– sangat layak dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tutupnya.

Red/Departemen Kominfo/ PB Pemuda Muslimin Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *