Cinta Dunia, Membuat Lupa Tujuan dan Esensi Hidup

Oleh: Ahmad Abdul Basyir*

Pemuda Muslim Online — Ada momentum peristiwa yang menarik di ceritakan di dalam kehidupan manusia. Peristiwa itu yakni terkait cinta. Cinta pada hakikatnya merupakan naluri yang Allah SWT berikan kepada hambanya (human). Tapi kadang manusia menyalah gunakannya. Manusia lebih mencintai dunianya ketimbang akhiratnya. Sehingga lupa kepada Allah SWT selaku Maha Pemilik Cinta Sejati.

Contoh misalnya para penguasa yang terlalu cinta akan jubah kekuasaannya, dan pengusaha yang cinta akan harta kekayaannya. Ia terlena dengan kecintaan dunia, sehingga menjadi manusia-manusia yang korup dan tidak jujur dalam memasarkan produk yang ia perdagangkan. Mereka tidak mau kehilangan itu semua.

Bahkan penguasa leader menjual hak-hak rakyat kepada pengusaha, sehingga mereka berdua sajalah yang menikmati keuntungannya. Seperti yang terjadi reklamasi di Jakarta, Bali dan Makassar. Misal lebih dekat lagi terdengar di Takalar yang nanti di Galesong Raya pun kena imbas karena reklamasi Makassar. Yang apabila pesisir pantainya dikeruk dijadikan pertambangan pasir. Tentu hanya penguasa dan pengusaha yang menikmati semata, dan rakyat menjadi tertindas oleh keganasan para manusia yang tak bertanggungjawab akan perbuatan yang dilakukan oleh pemangku kepentingan (stake holder) terlebih pada pemerintah yang terkait. Semua ini karena kecintaan dunia.

Begitu pun ahli ibadah yang hanya mempertontonkan kepiawaiannya beribadah di tempat peribadahan mereka. Berlama-lama bercerita mengkaji ilmu agama. Namun ia lupa akan kerabat, keluarga dan tetangga yang di milikinya sendiri. Mereka bertopeng dalam orientasi agama. Dunia tidak dijadikan lagi sebagai tempat berusaha (ikhtiar), untuk menolong dan menyejahterakan manusia yang lahir dunia ini.

Bangsa dan negara tidak dijadikan sebagai tempat menyelamatkan orang-orang yang tidak memperoleh keadilan, tak melihat kemiskinan dan pembodohan-pembodohan yang terjadi di luar sana, sementara rakyat membutuhkan mereka. Mereka kehilangan kesatriaannya, mereka berafiliasi menjadi penjilat.

Jauh hari Tjokroaminoto sudah mengingatkan, “Lantaran di antara bangsa kita banyaklah kaum yang memperhatikan kepentingannya sendiri dengan menindas pada kaum yang bodoh. Maka kesatriaan kaum yang begitu sudah jadi hilang dan kesatriaannya sudah berbalik jadi penjilat pantat”.

Para penyair, sok puitis dan orang berpacaran ia adalah salah satu aktor atau dalang. Mereka semua bagian-bagian kecil yang ikut dalam dramatisasi terkait tentang cintanya kepada dunia. Mereka mendoktrin mendogma untuk merasut pemikiran sesamanya melalui imajinasi yang hina.

Memang esensial dan eksistensinya itu adalah sebuah kebenaran. Tetapi apa yang membuat mereka sehingga hal ini terjadi demikian? Apakah memang manusia yang sengaja menjadikannya sebagai konteks dalam menerapkan nafsu berahinya (seks)?

Lebih parahnya lagi, apabila dua insan yang saling mencintai yang selalu bersama dengan orang yang dicintainya. Mereka selalu berujar akan kebodohan dirinya. Mereka mengatakan bahwa dunia hanya milik kita berdua. Ungkapan ini sering kali di gunakan oleh para penganut cinta di dalam dunia asmara dua insan tersebut pada bentuk pacaran. Mereka lebih mencintai dunianya ketimbang akhiratnya.

Sungguh Allah menantikan dan menunggu manusianya untuk dapat dicintai-Nya. Karena yang Allah inginkan yaitu bagaimana manusia memperbaiki relasi kepada-Nya dan terhadap sesamanya. Sebagai jalan untuk memperoleh Ridho-Nya. Karena Allah sendiri berfirman “Hubungan yang baik kepada Allah dan hubungan yang baik kepada sesamanya (manusia).”

Tetapi apa yang terjadi hanyalah dunia di pikiran para manusia-manusia tidak bersyukur ini.

Ketahuilah bahwa cinta di dunia menurut Manshur bin Abdul Aziz Al-Ujayyah (2001) adalah sumber segala kesalahan dan perusak agama dari beberapa sisi; yang pertama, cinta dunia mengharuskan adanya pengagungan di atasnya, sementara dunia adalah hina di sisi Tuhan. Termasuk dalam dosa besar mengagungkan apa yang telah dihinakan Tuhan. Kedua, sesungguhnya Tuhan telah melaknat dunia dan memurkainya kecuali yang telah menjadi bagiannya, dan memurkai pula orang yang mencintai apa yang di murkai dan dilaknat-Nya.

Sementara itu manusia itu punya kekuatan untuk bisa mencintai Tuhannya. Miftahul Munir (2005) menulis, “Melalui cinta Gibran dimulai teori tentang eksistensi manusia, dan cinta menjadi puncak kesempurnaan eksistensi itu sendiri. Meski dalam dunia makhluk hidup ditemukan sebentuk cinta atau sesuatu yang mirip cinta, namun corak kasih sayang yang ada dalam diri makhluk hidup tersebut hanya merupakan perpanjangan dari kemampuan instingtualnya. Cinta dalam diri manusia, di samping karena peran instingtualnya juga diiringi oleh peran akal budi. Cinta ini juga berasal dari kebutuhan untuk mengatasi keterpisahan dan mencapai kesatuan. Cinta kepada Tuhan mempunyai berbagai sifat dan aspek yang sama seperti cinta antara manusia dan dalam banyak hal juga di temukan perbedaan-perbedaan yang sama”.

Artinya bahwa manusia itu memiliki naluri akan kecintaan kepada dunia tetapi ia harus menyandarkan dirinya kepada Allah SWT. Sebagai Sang Kholik.

Tetapi realitasnya para penganut ini hanya semata-mata karena keinginan hawa nafsu dunia semata. Itulah sebabnya kecintaan dunia adalah sangat membahayakan bagi makhluk seperti manusia. Sementara di dunia yang sering dialami manusia yaitu harta, jabatan dan wanita. Ia adalah fasilitas di kehidupan dunia, meskipun ia termasuk bagian dari makhluk itu sendiri. Tapi ia harus juga sandarkan kecintaannya itu kepada Allah semata.

Sebagaimana dinukil dalam hadis nabi Muhammad saw., “Barang siapa yang mencintai dunia, niscaya akan membahayakan akhiratnya. Barang siapa mencintai akhiratnya, niscaya ia akan membahayakan dunianya. Maka utamakan yang kekal dari yang fana.” (HR. Ahmad).

Oleh karena itu, manusia haruslah kembali pada tujuan dan esensi hidupnya sebagai manusia, karena itulah merupakan cara untuk mencintai Allah. “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar menyembah kepada-Nya.” (Q.S. Az-Dzariyat : 56).

Islam memiliki konsep tersendiri untuk mengajak manusia agar tetap mempergunakan cintanya sesuai yang diharapkan Allah. Dalam memaknai ‘menyembah’ adalah manusia harus beribadah berupa ritual dan muamalah. Salah satu cara ini yakni salat dan zakat adalah hal yang dapat membawa manusia mencintai Tuhannya. “Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah berserta orang yang rukuk.” (Al-Baqarah : 43).

Inilah cara manusia yang harus ia lakukan dalam kehidupan dunia agar ia menjadi hamba yang mencintai Tuhannya. Dan dapat kembali pada tujuan dan esensi hidupnya.

Dengan demikian jangan targetkan dengan cinta yang berlebihan karena bisa saja dunia akan mengalihkan kita. Sehingga lupa akan akhirat. Meski memperoleh cinta dunia berkali-kali tapi tak bakal abadi. Namun capailah target cinta akhirat kepada yang memberi cinta untuk hari ini, esok dan selamanya. Sekaligus berjumpa dengan Allah selaku maha pemilik cinta sejati.

Karena tidak ada satu pun seorang hamba yang memiliki rasa cinta yang lebih kepada sesama manusia kecuali melebihi rasa cinta Allah kepada hamba-Nya. Jadi tidak salah kalau kita lebih mencintai Allah di atas kehidupan dunia ini.

Ahmad Abdul Basyir [Ketua Bidang Kader dan Dakwah, Pimpinan Cabang Pemuda Muslimin Indonesia Kabupaten Takalar]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *