Arus Baru Ekonomi Indonesia; Catatan dari Kongres Ekonomi Umat 2017

Oleh :

Banu Muhammad Haidlir
(Wakil Presiden Syarikat Islam Indonesia)

Sejak KH Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1905, hingga weekend ini MUI melaksanakan Kongres Ekonomi Umat 2017, sejatinya bangsa ini belum menikmati kemerdekaan ekonomi yang sesungguhnya. Pembangunan yang berjalan sejak politik balas budi, era kemerdekaan, orde lama, orde baru hingga orde reformasi belum mengantarkan pada kedaulatan ekonomi. Arus ekonomi umat ada tapi bukan arus besar, hanya arus kecil yang walau banyak namun tak terkoneksi dan belum bersinergi satu sama lain.

Memang Indonesia menunjukkan tahapan kemajuan, bahkan di tengah lesunya perekonomian dunia, Indonesia menunjukkan performa perekonomian yang relatif baik jika dibandingkan dengan banyak negara di dunia. Secara angka, data akhir tahun 2016 lalu menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia ada pada  nomor 3 di dunia setelah India dan Tiongkok. Pertanyaannya kemudian adalah “Apakah kaum muslimin sebagai penduduk mayoritas di negeri ini adalah kelompok yag paling merasakan pertumbuhan ekonomi tersebut?”.

Faktanya, ketimpangan masih menjadi masalah besar di negara ini. Rasio Gini kita masih di kisaran 0,4, sebuah kondisi yang buruk. Data berikutnya menunjukkan bahwa 1% penduduk menguasai hampir 50% tanah di bumi pertiwi, mafhum mukholafah-nya 99% penduduk negeri ini berbagi sisanya. Lebih spesifik kum muslimin, umat ini masih termarginalkan secara ekonomi. Jumlah umat Islam yang hampir 90% dari seluruh penduduk Indonesia ini hanya menguasai sekitar 20% kekayaan negara. Umat yang dominan secara jumlah, masih harus merangkak untuk hidup lebih sejahtera, karenanya perlu bangkit dan membangun arus baru.

2017, momentum kebangkitan umat

Ada beberapa fakta yang menarik di tahun 2017 ini, diantaranya (1) Semakin meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia. Sampai tahun 2020, diduga jumlah kaum kelas menengah muslim di Indonesia mencapai 147 juta jiwa dengan daya belanja yang hebat. Hal sederhana bisa dilihat jika kita jalan-jalan ke mall-mall besar di Jakarta, kita bisa menyaksikan dominannya perempuan berhijab dan ramainya antrian sholat maghrib. (2) Meningkatnya rasa kebersamaan umat yang terbukti dengan banyaknya kaum muslimin yang bisa bergerak bersama menolak penistaan Alquran, terpilihnya pemimpin pilihan umat islam di Pilkada Jakarta dan banyak bukti lainnya. Dimana salahsatu penyebab meningkatnya rasa kebersamaan ummat ini adalah pengaruh media sosial yang luarbiasa.

Namun demikian, beberapa fakta kelemahan juga masih menyelimuti umat ini, diantaranya adalah (1) Kapasitas dan kualitas SDM masih rendah, mental pemalas, tingginya ketidakpedulian, lemahnya ikatan, kesenjangan dan kebodohan. (2) Di kelompok umat yang bersyariah secara keuangan, ada kondisi dimana semangat melebihi pengetahuan. Ini terlihat dari temuan OJK pada kajiannya dimana ditemukan kesimpulan yang menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan syariah 2016  8,11%, namun indeks inklusi keuangan syariah 11,06%. Artinya sebagian nasabah perbankan syariah bahkan tidak tahu apa akad dalam produk tabungan atau pinjaman dia. Disisi lain, tantangan eksternal sungguh luarbiasa. Rentenir merata tersebar di seluruh titik-titik kehidupan umat dan menguritanya riba dan kapitalisme yang merontokkan sendi-sendi produksi dan distribusi barang dan jasa di kalangan kaum muslimin. Sehingga 217 juta manusia muslim Indonesia ini nyaris tak berdaya dan hanya menjadi konsumen yang baik.

 

Ummat sebenarnya mampu dan kaya

Jika kita bicara kondisi umat secara makro, mungkin optimisme kebangkitan umat masih di ranah mimpi. Namun jika melihat beberapa kondisi mikro, umat ini menunjukkan kesungguhan untuk bangkit. Faktanya, ekonomi ummat menggeliat di banyak sektor. Beberapa anak muda yang menjalankan bisnis hijab dan baju muslim secara online sudah mencapai omset diatas Rp. 100 Milyar pertahun. Ada Kopontren (Koperasi Pondok Pesantren) Al Ittifaq di Kabupaten Bandung yang santri dan alumni santrinya mampu mengelola luas lahan 160 hektar dengan kemampuan produksi sayur mayur sekitar 1,5 ton per hari. Produk santri ini diterima masuk ke jaringan ritel modern, restoran dan pasar-pasar tradisional. Itu hanya dua contoh dari sekian banyak contoh menggeliatnya ekonomi umat. Bahkan semangat 212 yang menggelora mampu menghadirkan koperasi syariah yang dalam waktu sangat singkat sudah mampu mengumpulkan lebih dari 30.000 anggota.

Lebih dari itu, potensi umat ini sungguh sangat dahsyat. Data OJK menunjukkan bahwa saat ini, Indonesia telah muncul sebagai negara yang terdepan dalam hal pertumbuhan industri perbankan Syariah dengan pertumbuhan aset yang mencapai 40% (dua kali lipat lebih pertumbuhan dunia). Bahkan, industri keuangan Syariah di Indonesia dianggap sebagai salah satu industri keuangan Syariah yang paling komprehensif dalam hal infrastruktur kelembagaan. Saat ini terdapat 12 Bank Syariah di Indonesia, 22 islamic windows, 161 BPR Syariah, 13 juta rekening dan hampir 3.000 kantor jaringan. Di Bursa Efek Indonesia, saat ini ada sekitar 330 saham yang menjadi bagian dari Indeks Saham Syariah di Indonesia dengan kapitalisasi pasar sebesar USD359 milyar. Reksa Dana Syariah juga berkembang secara signifikan dengan nilai sekitar Rp 20 triliun dana kelolaan. Belum lagi outstanding dana haji yang mencapai Rp. 90 Trilyun. Sungguh potensi yang luarbiasa.

 

Membangun arus baru ekonomi Indonesia

Membangun arus baru ekonomi Indonesia berarti membangun ekonomi umat Islam yang jumlahnya akan mencapai 233 juta tahun 2020 nanti. Pemberdayaan ekonomi umat diartikan sebagai upaya-upaya seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan sumberdaya umat untuk mengoptimalkan potensi-potensi ekonomi yang dimilikinya dalam mencapai kemandirian dan kesejahteraan ummat.

Bagaimana membangun arus baru ekonomi Indonesia? Beberapa catatan penulis dari Kongres Ekonomi Umat ini diantaranya adalah (1) Kebijakan afirmatif dari pemerintah, diantaranya adalah dengan kesungguhan membentuk dan memfungsikan KNKS (Komite Nasional Keuangan Syariah), juga kebijakan lain misalnya menghadirkan satu bank syariah besar (pernah ada wacara mengkonversi BTN menjadi bank syariah besar), juga beberapa kebijakan dasar lainnya. (2) Meningkatkan kualitas dan kuantitas perekonomian umat islam  dengan melakukan inventarisasi potensi umat, menghidupkan peran ulama dalam membangun dan menyiapkan masyarakat, menguatkan jejaring kaum muslimin, meningkatkan kerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan perekonomian ummat, dan memberikan alternatif kepada kaum muslimin untuk bisa menguatkan kualitas dirinya. (3) Memperbanyak saudagar dan pengusaha besar muslim. (4) Pembagian peran dan sinergi seluruh pemangku kepentingan perekonoman umat, dari Pengusaha, Profesional muslim, Ormas islam, Úlama, Lembaga Keuangan Syariah dan lembaga zakat sampai akademisi. (5) Mengoptimakan peran Lembaga zakat dan wakaf dalam memberikan bantuan kepada usaha mikro dan usaha ultra mikro yang belum eligible, feasible dan bankable.

Akhirnya, semoga Kongres Ekonomi Umat tak hanya ajang silaturahim, tapi ajang mampu menghasilkan rencana-rencana dan rekomendasi-rekomendasi besar yang bisa dijalankan dan akhirnya mampu membangun arus baru ekonomi Indonesia.

Tulisan dimuat di harian Republika, Selasa 25/4/2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *